JAKARTA – Dewan Energi Mahasiswa (DEM) Aceh menggelar Seminar Nasional Peugah Haba Energi bertajuk “Membangun Kesepahaman di Tengah Polemik Pengembangan Blok Andaman” di Waroeng Aceh Garuda, Tebet, Jakarta Selatan, Sabtu malam (25/7/2026). Kegiatan yang berlangsung secara hybrid itu diikuti lebih dari 170 peserta dari kalangan regulator, akademisi, praktisi, mahasiswa, dan masyarakat.
Seminar menghadirkan Kepala SKK Migas, Dr. Ir. Djoko Siswanto, MBA, Ketua Indonesia Center for Renewable Energy Studies (ICRES), Dr. Ir. Surya Darma, MBA, serta Founder DEM Aceh sekaligus Aktivis Energi, Didi Supriadi, ST. Acara dibuka Presiden DEM Aceh, Faizar Rianda, dan dipandu Ketua Umum Masyarakat Ketahanan Energi Indonesia (MKEI), Awaf Wirajaya, ST., M.Han.
Kegiatan ini menjadi ruang dialog untuk membangun kesepahaman di tengah polemik pengembangan Blok Andaman, khususnya terkait pembahasan Plan of Development (PoD) Tahap I. Diskusi mempertemukan pandangan regulator, akademisi, praktisi, dan generasi muda guna merumuskan langkah strategis agar proyek tersebut mampu memberikan manfaat ekonomi yang optimal bagi Aceh dan Indonesia.
Dalam sambutannya, Presiden DEM Aceh, Faizar Rianda, menegaskan bahwa DEM Aceh mendukung pengembangan Blok Andaman sebagai Proyek Strategis Nasional. Menurutnya, pengembangan tersebut harus menghadirkan nilai tambah melalui pembangunan industri hilir berbasis gas tanpa menghambat percepatan investasi yang sedang berjalan.
Faizar menilai perdebatan mengenai skema pengembangan, baik menggunakan Floating Production, Storage and Offloading (FPSO), Onshore Processing Facility (OPF), maupun skema hybrid harus didasarkan pada kajian teknis, potensi lapangan, karakteristik laut dalam, dan aspek keekonomian proyek. Ia juga menegaskan PoD yang telah ditetapkan perlu segera direalisasikan agar kepercayaan investor tetap terjaga.
Sementara itu, Kepala SKK Migas, Dr. Ir. Djoko Siswanto, MBA, menjelaskan arah pengembangan sektor hulu migas nasional, tantangan investasi, serta pentingnya menjaga kepastian investasi agar proyek-proyek strategis nasional dapat berjalan sesuai target. Ia menilai pengembangan Blok Andaman harus segera direalisasikan.
Ketua ICRES, Dr. Ir. Surya Darma, MBA, mengatakan pengalaman pengembangan Blok Masela yang memerlukan waktu hampir 26 tahun harus menjadi pelajaran agar Indonesia tidak mengulangi keterlambatan serupa di Blok Andaman. Menurutnya, gas Andaman merupakan aset strategis yang mampu memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus menjadi jembatan menuju transisi energi yang lebih hijau.
Founder DEM Aceh, Didi Supriadi, ST, menegaskan PoD Tahap I bukanlah garis akhir pengembangan Blok Andaman, melainkan titik awal menuju pembangunan industri energi jangka panjang. Ia berharap Aceh tidak hanya menjadi daerah penghasil gas, tetapi juga berkembang menjadi pusat industri berbasis gas yang mampu menciptakan nilai tambah, menarik investasi, membuka lapangan kerja, dan mendorong pertumbuhan ekonomi kawasan.
Sebagai tindak lanjut seminar, DEM Aceh merumuskan lima rekomendasi strategis, yaitu mengalokasikan sebagian produksi gas Blok Andaman untuk industri di KEK Arun, menyusun skema harga gas yang kompetitif, menyiapkan Master Plan Industrialisasi Blok Andaman–KEK Arun, membentuk forum koordinasi lintas pemangku kepentingan, serta mempercepat peningkatan kualitas sumber daya manusia Aceh melalui pendidikan vokasi, sertifikasi, dan pelatihan guna mendukung pengembangan industri migas dan petrokimia di masa depan.(**)




















