PIDIE JAYA | Nusaone.co.id – Ketua Pengurus PERSEMA Simpang Tiga Meureudu, Muhammad, menyampaikan keprihatinannya terhadap kondisi sepak bola di Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya, yang dinilai mengalami penurunan drastis. Ia mengajak pemerintah, insan sepak bola, dan masyarakat untuk bersama-sama menghidupkan kembali pembinaan olahraga yang pernah menjadi kebanggaan daerah.
Muhammad mengatakan, pada era 1990-an sepak bola merupakan olahraga yang paling diminati masyarakat Meureudu. Lapangan Bola Kaki Meureudu hampir setiap sore dipenuhi anak-anak, remaja, hingga orang dewasa yang bermain, berlatih, maupun menyaksikan pertandingan antarkampung, antarkecamatan, dan antarkabupaten.
Menurutnya, sepak bola kala itu tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga berperan sebagai sarana mempererat silaturahmi, membentuk karakter generasi muda, menanamkan nilai sportivitas, serta melahirkan banyak pemain berbakat yang memperkuat klub dan tim daerah.
Muhammad menjelaskan, penurunan aktivitas sepak bola mulai terasa sejak konflik bersenjata yang melanda Aceh pada 1998. Kondisi tersebut berdampak pada berbagai aktivitas masyarakat, termasuk pembinaan sepak bola di tingkat akar rumput.
Ia menambahkan, setelah konflik mulai mereda, Aceh kembali diterpa bencana tsunami pada Desember 2004. Kemudian, gempa bumi yang mengguncang Pidie Jaya pada 7 Desember 2016 semakin memperberat upaya menghidupkan kembali aktivitas olahraga, termasuk sepak bola.
Muhammad mengenang, sejumlah foto lama yang masih disimpannya menjadi bukti ramainya Lapangan Bola Kaki Meureudu pada masa kejayaan. Lapangan tersebut menjadi pusat aktivitas generasi muda dalam mengasah kemampuan sekaligus mempererat kebersamaan.
Saat ini, lanjutnya, suasana di Lapangan Bola Kaki Meureudu tidak lagi seramai dahulu. Berkurangnya ruang bermain, minimnya pembinaan berkelanjutan, serta perubahan minat generasi muda dinilai menjadi faktor utama meredupnya gairah sepak bola di wilayah tersebut.
Karena itu, Muhammad berharap Pemerintah Kabupaten Pidie Jaya, Askab PSSI Pidie Jaya, sekolah, klub sepak bola, serta seluruh elemen masyarakat dapat memperkuat pembinaan usia dini, meningkatkan fasilitas olahraga, dan rutin menggelar kompetisi agar lahir kembali pesepak bola berbakat dari Meureudu dan Pidie Jaya.
“Kebangkitan sepak bola di Meureudu bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah atau pengurus klub, tetapi membutuhkan dukungan seluruh masyarakat. Dengan kerja sama semua pihak, saya optimistis gairah sepak bola dapat kembali hidup dan menjadi kebanggaan generasi muda seperti pada masa kejayaannya,” ujar Muhammad.
(Arju Na Fahlefi)














