PIDIE JAYA – Nusaone.co.id | Delapan bulan pascabanjir hidrometeorologi, kondisi Krueng Meureudu di Kabupaten Pidie Jaya masih memprihatinkan. Material yang terbawa arus dan mengendap di sepanjang alur sungai telah mengubah wajah kawasan Kuala Meureudu.
Tepian sungai yang sebelumnya menjadi kawasan aktivitas kapal dan nelayan kini di sejumlah titik berubah menjadi hamparan daratan. Endapan material membuat alur sungai mengalami perubahan dan membutuhkan penanganan lebih lanjut.
Perubahan tersebut terlihat jelas di kawasan Kuala Meureudu. Aktivitas yang sebelumnya identik dengan kapal nelayan kini sebagian bergeser, sementara kondisi alur sungai masih membutuhkan perhatian serius dari pemerintah dan instansi terkait.
Ironisnya, hamparan daratan hasil endapan tersebut kini dimanfaatkan anak-anak untuk bermain sepak bola pada sore hari. Kawasan yang sebelumnya menjadi bagian dari aktivitas sungai berubah menjadi ruang bermain bagi anak-anak sekitar.
Kondisi itu menjadi perhatian karena Krueng Meureudu memiliki peran penting bagi masyarakat, khususnya nelayan. Kondisi alur dan kedalaman sungai sangat menentukan kelancaran kapal untuk keluar-masuk serta berlabuh di kawasan Kuala Meureudu.
Dikutip dari berita Gampong, kapal keruk (dredger) bantuan pemerintah pusat melalui Kementerian Pekerjaan Umum (PU) yang diterima Pemerintah Kabupaten Pidie Jaya pada 27 Juni 2026 disebut telah berada di kawasan Kuala Meunasah Balek, Meureudu, selama hampir tiga bulan.
Keberadaan kapal keruk tersebut diharapkan dapat membantu menangani material endapan dan memulihkan alur Krueng Meureudu. Masyarakat berharap pengerukan dan normalisasi dilakukan secara optimal agar fungsi sungai kembali mendukung aktivitas nelayan.
Delapan bulan setelah bencana, masyarakat berharap kondisi Krueng Meureudu tidak dibiarkan berlarut-larut. Pemerintah dan instansi terkait diminta memberi perhatian terhadap pemulihan alur sungai sebagai bagian penting dari penanganan dampak pascabencana.
Dari kawasan yang dahulu ramai oleh kapal nelayan, kini sebagian tepian Krueng Meureudu berubah menjadi hamparan daratan yang pada sore hari menjadi arena bermain bola anak-anak. Kondisi tersebut menjadi gambaran bahwa delapan bulan pascabanjir, pemulihan sungai masih menjadi pekerjaan rumah yang perlu segera dituntaskan.




















