PIDIE JAYA — Nusaone.co.id | Faisal Mhd, SE, putra asli Pidie Jaya asal Kecamatan Meurah Dua, menunjukkan kepeduliannya terhadap kampung halaman dengan langsung meninjau kondisi Krueng Meureudu sepulang dari perantauan, Selasa (25/8/2026). Sungai yang menjadi bagian penting kehidupan masyarakat itu kini mengalami pendangkalan setelah banjir hidrometeorologi yang melanda Pidie Jaya pada November tahun lalu.
Kepulangannya ke tanah kelahiran bukan sekadar untuk bersilaturahmi. Dengan rasa peduli terhadap daerah yang membesarkannya, Faisal menyempatkan diri melihat dari dekat perubahan kondisi Krueng Meureudu dan kawasan Kuala Meureudu yang terdampak oleh sedimentasi.
Dalam peninjauan tersebut, Faisal menyaksikan langsung kondisi para nelayan yang kini tidak dapat lagi beraktivitas seperti sebelumnya di kawasan Kuala Meureudu. Pendangkalan alur sungai menjadi persoalan yang dirasakan masyarakat, terutama bagi mereka yang menggantungkan kehidupan pada aktivitas di perairan.
Keadaan tersebut menjadi perhatian serius bagi Faisal. Ia menilai Krueng Meureudu bukan hanya sekadar aliran sungai, melainkan bagian penting dari kehidupan masyarakat Pidie Jaya yang perlu dijaga dan dipulihkan melalui perhatian serta langkah penanganan yang tepat.
Untuk memperoleh gambaran lebih mendalam, Faisal kemudian berdiskusi dengan Rony dari tim dredging Banda Aceh bersama beberapa rekannya. Pertemuan itu menjadi ruang bertukar pandangan mengenai kondisi Krueng Meureudu dan berbagai kemungkinan solusi terhadap persoalan pendangkalan yang terjadi.
Dalam suasana sederhana namun penuh semangat kepedulian, Faisal bersama Rony dan rekan-rekannya melakukan brainstorming mengenai kontribusi yang dapat diberikan. Berbagai pemikiran dan gagasan dibahas sebagai langkah awal untuk mencari solusi yang konstruktif bagi pemulihan alur sungai.
Faisal memandang persoalan pendangkalan tidak dapat diselesaikan oleh satu pihak saja. Dibutuhkan kerja sama dan kepedulian bersama, baik dari pemerintah, masyarakat, maupun pihak-pihak yang memiliki pengalaman serta kemampuan di bidang penanganan sungai dan sedimentasi.
Bagi Faisal, kunjungan tersebut juga memiliki arti yang lebih dalam. Sebagai putra Meurah Dua dan alumni SMA Negeri 1 Meureudu angkatan 1994, ia memiliki ikatan emosional yang kuat dengan Pidie Jaya. Kedekatan itu pula yang menggerakkan hatinya untuk ikut memikirkan apa yang dapat dikontribusikan bagi kampung halaman.
Melalui peninjauan langsung dan diskusi bersama tim dredging, Faisal berharap kepedulian kecil dapat tumbuh menjadi langkah nyata bagi Krueng Meureudu. Dari seorang putra daerah yang pulang dari rantau, perhatian itu membawa harapan sederhana namun bermakna: agar sungai kembali memberi kehidupan, nelayan dapat kembali beraktivitas, dan Krueng Meureudu tetap menjadi bagian berharga bagi masa depan masyarakat Pidie Jaya.
(Arju Na Fahlefi)




















