BANDA ACEH — Nusaone.co.id | Momentum 15 Agustus 2026 diharapkan menjadi kesempatan bagi masyarakat Aceh untuk mengenang perjalanan panjang menuju perdamaian sekaligus merawat identitas dan marwah Aceh.
Tanggal 15 Agustus memiliki makna penting bagi Aceh karena bertepatan dengan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) Helsinki pada 15 Agustus 2005 yang menjadi tonggak penting dalam perjalanan perdamaian Aceh.
Ketua Cendikia Peutrang Nanggroe Aceh, M. Rafsanjani, mengajak seluruh masyarakat Aceh menjadikan Hari Damai Aceh sebagai momentum refleksi sejarah serta memperkuat kesadaran terhadap identitas dan jati diri Aceh.
Salah satu bentuk ekspresi yang diusung dalam momentum tersebut adalah pengibaran Bendera Alam Peudeung pada 15 Agustus 2026. Pengibaran itu dimaknai sebagai simbol identitas, kebanggaan terhadap sejarah dan budaya Aceh, sekaligus pengingat pentingnya menjaga perdamaian.
“Pengibaran Alam Peudeung ini kami maknai sebagai bagian dari upaya mengembalikan marwah dan identitas Aceh. Kita ingin mengenang sejarah dan memperkuat jati diri masyarakat Aceh, namun tetap dalam semangat perdamaian dan persatuan,” ujar M. Rafsanjani.
Rafsanjani menegaskan bahwa peringatan Hari Damai Aceh tidak seharusnya hanya menjadi kegiatan seremonial. Menurutnya, momentum tersebut penting untuk menanamkan nilai-nilai perdamaian dan sejarah Aceh kepada generasi muda agar pengalaman masa lalu menjadi pelajaran bagi masa depan.
Ia juga meminta Pemerintah Aceh segera melakukan revisi dan menerapkan ketentuan dalam UUPA terkait bendera dan lambang Aceh. Menurutnya, penguatan identitas Aceh harus dilakukan melalui langkah yang bermartabat serta tetap memperhatikan ketentuan hukum yang berlaku.
Rafsanjani mengingatkan bahwa mengenang sejarah bukan berarti membuka kembali konflik masa lalu. Sebaliknya, sejarah harus menjadi pelajaran untuk menjaga perdamaian, memperkuat persatuan, serta mempertahankan marwah Aceh secara damai dan bertanggung jawab.
“Perdamaian adalah hasil dari perjalanan sejarah yang panjang. Karena itu, mari kita rawat perdamaian, kita jaga marwah Aceh, dan kita wariskan identitas serta sejarah Aceh kepada generasi berikutnya,” katanya. (**)




















