PIDIE — Nusaone.co.id | Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menjadi salah satu program prioritas pemerintah pusat masih dinantikan masyarakat di Kecamatan Kembang Tanjong, Kabupaten Pidie, Aceh. Hingga kini, 14 desa dan 12 sekolah di wilayah tersebut disebut belum menerima manfaat program tersebut.
Kondisi itu menimbulkan pertanyaan di tengah masyarakat, terutama para orang tua siswa, guru, kader Posyandu serta keluarga yang memiliki balita, ibu hamil dan ibu menyusui. Mereka berharap program pemenuhan gizi tersebut dapat segera menjangkau seluruh wilayah sasaran secara merata.
Berdasarkan data tahun 2026 yang ditampilkan dalam pendataan wilayah Kembang Tanjong, tercatat sebanyak 60 ibu hamil, 125 ibu menyusui dan 570 balita dari desa-desa yang masuk dalam pendataan. Data tersebut menunjukkan adanya kelompok masyarakat yang membutuhkan dukungan pemenuhan gizi secara berkelanjutan.
Selain kelompok masyarakat tersebut, sebanyak 12 sekolah juga disebut masih menunggu kepastian distribusi MBG. Para siswa dan guru berharap program tersebut dapat segera dilaksanakan sehingga manfaat makanan bergizi dapat dirasakan selama kegiatan belajar mengajar berlangsung.
Sejumlah kepala sekolah disebut telah mempertanyakan persoalan tersebut kepada pihak dapur MBG yang berada di wilayah Kembang Tanjong. Namun, masyarakat hingga kini masih menunggu informasi yang jelas mengenai waktu dimulainya distribusi dan mekanisme penyalurannya.
Kader Posyandu juga ikut mempertanyakan kepastian pelaksanaan MBG bagi kelompok sasaran di desa. Mereka merupakan pihak yang berhubungan langsung dengan masyarakat, khususnya keluarga yang memiliki balita, ibu hamil dan ibu menyusui, sehingga membutuhkan informasi yang pasti untuk disampaikan kepada warga.
Masyarakat berharap pemerintah daerah, pihak pelaksana MBG dan pengelola dapur MBG dapat menjelaskan secara terbuka apabila terdapat kendala dalam pelaksanaan program. Kendala tersebut, misalnya, terkait kapasitas dapur, jumlah penerima, tahapan pelaksanaan maupun jangkauan distribusi ke desa dan sekolah.
Bagi masyarakat, persoalan utama bukan sekadar kapan makanan dibagikan, tetapi adanya kepastian bahwa program nasional tersebut benar-benar menjangkau seluruh kelompok sasaran. Mereka tidak meminta perlakuan khusus, melainkan menginginkan pemerataan serta informasi yang transparan mengenai pelaksanaan MBG.
Kini masyarakat Kembang Tanjong berharap pemerintah segera memberikan jawaban atas pertanyaan yang terus muncul: “Sampai kapan kami harus menunggu?” Sebab, 14 desa dan 12 sekolah masih menanti, bersama ratusan balita, ibu hamil, ibu menyusui, siswa dan guru yang berharap program Makan Bergizi Gratis segera hadir di wilayah mereka. (**)




















