SEMARANG – Nusaobe.co.id | Aceh kembali menorehkan prestasi pada ajang Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Nasional XXXI Tahun 2026 di Semarang, Jawa Tengah. Setelah penantian selama 45 tahun, Aceh berhasil meraih Juara 1 cabang Fahmil Qur’an Putri tingkat nasional.
Prestasi tersebut diraih oleh tiga santriwati Dayah Insan Qurani (IQ) Aceh Besar yang tampil sebagai Duta Aceh. Ketiganya adalah Izza Mushviya, Azka Dara Maulidya, dan Kayyisa Farras.
Ketiga santriwati tersebut tampil pada babak final Fahmil Qur’an Putri yang berlangsung pada Jumat (18/9/2026). Mereka membawa nama Aceh dalam kompetisi yang mempertemukan peserta dari berbagai daerah di Indonesia.
Dalam babak final, tim Fahmil Qur’an Putri Aceh berhasil memperoleh nilai 1.505 poin. Raihan tersebut mengantarkan Aceh berada di posisi pertama dan merebut gelar Juara 1 pada cabang Fahmil Qur’an Putri MTQ Nasional XXXI Tahun 2026.
Keberhasilan ini menjadi catatan penting bagi Aceh karena gelar juara pada cabang Fahmil Qur’an tersebut kembali diraih setelah penantian selama 45 tahun. Prestasi itu sekaligus menambah catatan keberhasilan Aceh pada ajang MTQ Nasional.
Ketiga santriwati Dayah Insan Qurani sebelumnya menjalani persiapan melalui proses pembelajaran dan latihan untuk menghadapi kompetisi. Kemampuan dalam memahami Al-Qur’an dan pengetahuan keislaman menjadi bagian penting dalam penampilan mereka di babak final.
Prestasi tersebut turut mengharumkan nama Dayah Insan Qurani Aceh Besar sebagai lembaga pendidikan tempat ketiganya menimba ilmu. Keberhasilan mereka menunjukkan peran pendidikan dayah dalam membina generasi muda yang memiliki kemampuan di bidang Al-Qur’an.
Kemenangan tim Fahmil Qur’an Putri Aceh juga menjadi kebanggaan bagi masyarakat Aceh. Perjuangan Izza Mushviya, Azka Dara Maulidya, dan Kayyisa Farras di Semarang berbuah hasil berupa gelar juara dengan raihan 1.505 poin.
Dengan kemenangan tersebut, Aceh akhirnya kembali mencatatkan namanya sebagai Juara 1 Fahmil Qur’an Putri pada MTQ Nasional XXXI Tahun 2026. Tiga santriwati Dayah Insan Qurani menjadi bagian penting dari sejarah tersebut setelah Aceh menunggu 45 tahun untuk kembali meraih prestasi tertinggi di cabang Fahmil Qur’an. (**)




















