Breaking News

Home / Banda Aceh / Opini / Politik

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 20:56 WIB

Mahasiswa USK Ajak Rawat Perdamaian Aceh Lewat Dialog

BANDA ACEH — Nusaone.co.id | Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Syiah Kuala (FISIP USK), Muhammad Faiez Maulana, mengajak seluruh pihak menjaga perdamaian Aceh dengan mengedepankan dialog, komunikasi terbuka, dan penghormatan terhadap aspirasi masyarakat.

Ajakan tersebut disampaikan Muhammad Faiez menyikapi peristiwa yang terjadi pada 15 Agustus 2026 di Banda Aceh, bertepatan dengan peringatan Hari Damai Aceh. Menurutnya, setiap persoalan yang muncul di tengah masyarakat perlu dihadapi secara bijaksana agar tidak mengganggu suasana damai yang telah terbangun selama lebih dari dua dekade.

Ia mengingatkan bahwa 15 Agustus 2005 merupakan tanggal bersejarah bagi Aceh karena menjadi momentum penandatanganan MoU Helsinki antara Pemerintah Republik Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Kesepakatan tersebut menjadi tonggak penting berakhirnya konflik bersenjata dan membuka lembaran baru bagi masyarakat Aceh.

Baca Juga:  Apel Perdana di Balai Kota, Wakil Wali Kota Banda Aceh Tekankan Komitmen Pelayanan ASN

Sejak saat itu, kata Muhammad Faiez, masyarakat Aceh terus merawat perdamaian melalui berbagai kegiatan dan peringatan simbolik. Momentum Hari Damai tidak hanya menjadi pengingat sejarah, tetapi juga menjadi ruang untuk memperkuat persaudaraan dan memastikan perdamaian tetap menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat.

Menurutnya, pengalaman sejarah menunjukkan bahwa Aceh memiliki perjalanan panjang dengan berbagai konflik. Karena itu, karakter masyarakat Aceh serta pengalaman masa lalu perlu menjadi pertimbangan bagi para pemangku kebijakan dalam mengambil langkah ketika menghadapi persoalan sosial dan aspirasi masyarakat.

Terkait peristiwa yang disebut dipicu persoalan penurunan bendera dan mendapat respons aparat, Muhammad Faiez memilih tidak memberikan penilaian subjektif terhadap substansi kejadian tersebut. Namun, ia menilai masyarakat tetap memiliki hak untuk menyampaikan pendapat dan aspirasi secara damai dalam ruang demokrasi.

Ia juga berpandangan bahwa masyarakat Aceh memiliki karakter yang kuat dalam mempertahankan harga diri serta memiliki keterikatan erat dengan nilai agama dan sejarah. Oleh sebab itu, pendekatan persuasif dan dialog dinilai lebih tepat dibandingkan tindakan yang berpotensi melahirkan ketegangan baru.

Baca Juga:  Dishub Aceh Pantau Kedatangan Kapal Pengangkut LPG di Krueng Geukueh

Mengenai persoalan bendera Aceh, Muhammad Faiez menyebut isu tersebut berkaitan dengan dinamika pelaksanaan kekhususan Aceh. Menurutnya, berbagai perbedaan pandangan mengenai simbol dan kekhususan daerah sebaiknya diselesaikan melalui mekanisme hukum, komunikasi politik, serta dialog yang melibatkan pihak-pihak terkait.

Sebagai mahasiswa, Muhammad Faiez berharap peristiwa yang terjadi pada momentum Hari Damai Aceh dapat menjadi bahan evaluasi bersama. Ia mengajak pemerintah, aparat, dan masyarakat untuk saling menghormati, membuka ruang komunikasi, serta menjaga perdamaian sebagai warisan berharga bagi generasi Aceh agar tetap tumbuh dalam suasana aman dan bermartabat. (**)

Share :

Baca Juga

Banda Aceh

Wali Kota Banda Aceh Serahkan Rumah Layak Huni untuk Warga Lambaro Skep

Politik

Eks Kombatan GAM Tripoli Libya Pimpin PSI Pidie

Banda Aceh

Wagub Aceh Lepas Empat Pelajar Penerima Beasiswa ke Tiongkok

Banda Aceh

Nasir Djamil: Pengelolaan Blok Andaman Harus Berpihak pada Rakyat

Banda Aceh

WAGUB ACEH BAHAS PENANGANAN BENCANA DAN PEMBANGUNAN HUNTARA BERSAMA WAKIL KEPALA BADAN PENGATURAN BUMN

Banda Aceh

Di Balik Pembangunan Fisik, Ada Jiwa yang Sehat: Banda Aceh Berbagi Inspirasi di APCAT Summit

Banda Aceh

Satgas TMMD Kodim 0102/Pidie dan Warga Kebut Pembangunan MCK, Hadirkan Sanitasi Layak di Meunasah Blang Cot

Banda Aceh

Hangatnya Solidaritas, IWO Pidie Jenguk Ketua PW IWO Aceh